Rekomendasi CDC: Vaksinasi Pada Kehamilan

Imunisasi yang dilakukan sebelum dan selama kehamilan merupakan tindakan preventif untuk meningkatkan kekebalan tubuh ibu terhadap infeksi parasit, bakteri, dan virus. Pemberian vaksin dari virus yang hidup tidk dianjurkan. Karena, selama hamil daya tahan tubuh ibu sedikit menurun sehingga pemberian vaksin hidup dikhawatirkan malah menyebabkan infeksi dan membahayakan janin. Imunisasi boleh diberikan jika vaksinnya mengandung virus mati atau tidak aktif.

Jenis Imunisasi yang Direkomendasikan pada Ibu Hamil

  • Influenza Sebuah penelitian menunjukkan ibu hamil yang mendapatkan suntikan vaksin flu menunjukkan ibu-ibu tersebut memiliki bayi yang lebih tahan terhadap influenza. Hanya ditemukan tiga kasus flu ketika usia bayi mereka masih di bawah enam bulan. “Padahal tidak pernah terbukti sebelumnya bahwa imunisasi terhadap ibu hamil memberikan keuntungan besar kepada bayinya. Di Amerika, hanya 14% ibu hamil yang menjalani imunisasi ini. Angka ini terpaut tidak jauh dibandingkan di negara miskin dimana akses kesehatan terbatas. Di banyak daerah, program ini telah banyak diberikan kepada ibu hamil termasuk suntikan antitetanus. Mereka seharusnya menambahkan vaksin influenza,” ujar Mark Steinhoff, Profesor Pediatrik dari Johns Hopkins Universitiy, di Baltimore. Hasil ini mendukung rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa ibu hamil seharusnya mendapatkan imunisasi influenza untuk melindungi dirinya dan calon anaknya. Infeksi ini meningkat risikonya pada ibu hamil dan bayi yang kurang gizi. Menurut sebuah laporan dalam jurnal medis di Inggris tahun 2005, rata-rata kematian akibat flu masih tinggi untuk bayi usia di bawah enam bulan. Imunisasi influenza dengan virus yang tidak aktif ini bisa diberikan pada ibu hamil, bila ada indikasi ibu hamil tersebut berisiko terkena flu dalam kondisi parah, seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Pada musim flu (menjelang dan pada musim dingin), penyakit flu di Amerika bisa berkembang sangat parah sampai-sampai perlu dirawat di rumah sakit. Jadi, ibu yangmenjalani kehamilan trimester kedua dan tiga di musim dingin, sebaiknya diimunisasi influenza. Secara umum, imunisasi ini aman diberikan pada ibu hamil. Bahkan, berdasarkan Panduan Pemberian Imunisasi bagi Wanita Hamil dan Menyusui yang dikeluarkan Centers for Disease Control andPrevention, sebuah studi yang dilakukan terhadap 2.000 ibu hamil yang diimunisasi influenza menunjukkan tidak adanya pengaruh terhadap janin akibat imunisasi tersebut. Hasil serupa diperoleh terhadap 252 ibu yang mendapat imunisasi influenza enam bulan setelah melahirkan. Sementara di Indonesia, flu umumnya dianggap sebagai penyakit yang sangat umum dan biasanya tidak membahayakan. Apalagi, di Indonesia tidak terdapat flu musiman seperti di Amerika yang bisa menyebabkan flu sangat berat. Jadi, imunisasi influenza jarang sekali diberikan pada ibu hamil.Sedangkan di Indonesia, penyakit influenza sering dianggap biasa. Padahal bisa mengganggu kesehatan ibu dan janin. Pemberian imunisasi influenza diberikan pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Setelahnya, ibu mungkin mengalami demam ringan, bengkak, dan kemerahan di daerah bekas suntikan. Lakukan imunisasi saat tubuh benar-benar dalam keadaan sehat. Setelah melakukan imunisasi, lakukan cukup istirahat, makan makanan bergizi, dan jangan dekati orang yang sedang terkena influenza karena akan mudah tertular. Sempatkanlah memeriksakan diri ke dokter jika ibu mengidap flu untuk memastikan flu tersebut tidak membahayakan. Penelitian terakhir menunjukkan pada penderita flu yang berulang dan berkepanjangan ternyata bisa mengakibatkan bayi yang dilahirkan lebih mudah mengalami gangguan perilku khususnya Autis.
  • Hepatitis B Umumnya seseorang tidak langsung menyadari bahwa dirinya terinfeksi virus hepatitis B. Bahayanya, janin bisa ikut tertular ketika menjalani proses kelahiran. Karenanya, imunisasi hepatitis B sangat perlu bagi ibu hamil. Bayi baru lahir pun diwajibkan segera mendapat imunisasi Hepatitis B. Vaksin Hepatitis B terbuat dari bahan rekombinan yaitu vaksin yang dibuat dengan bahan rekayasa genetika sehingga menyerupai virus Hepatitis B. Vaksin ini aman diberikan kepada ibu hamil. Waktu pemberian imunisasi ini adalah pada kehamilan bulan pertama, kedua, dan keenam. Ibu hamil akan diperiksa kadar HbsAg dan Anti-Hbs-nya (reaksi antigen-antibodi). Jika hasil Anti-HbsAg-nya positif, ibu tak perlu imunisasi lagi karena sudah mempunyai zat antobodi/kekebalan hepatitis B. Biasanya setelah imunisasi, timbul demam ringan dan nyeri pada bekas suntikan. Bila tidak ada infeksi dan belum mempunyai antibodi, maka vaksin hepatitis B dapat diberikan kepada ibu hamil.
  • Tetanus Toksoid (TT) Di banyak negara berkembang, dimana kaum ibu melahirkan dalam kondisi tidak higienis. Hal ini berisiko menimbulkan infeksi oleh kuman tetanus pada ibu dan bayi hingga jiwa mereka terancam. Rahim ibu melahirkan rentan terinfeksi kuman tetanus, sedangkan pada bayi infeksi ini dimulai dari luka pada tali pusatnya. Bakteri Klostridium tetanus pada bayi baru lahir dapat menimbulkan penyakit tetanus neonatorum yang dapat mengakibatkan kematian. Bakteri atau spora tetanus tumbuh dalam luka yang tidak steril. Misalnya, jika tali pusat dipotong dengan pisau yang tidak tajam dan tidak steril, atau jika benda apa pun yang tidak bersih menyentuh ujung tali pusat. Semua ibu hamil harus memastikan mereka telah mendapat imunisasi tetanus toksoid (TT) untuk menghindari jangkitan tetanus yang berisiko pada diri dan bayinya. Walaupun sudah mendapatkan imunisasi sebelumnya, ibu membutuhkan tambahan vaksin tetanus toksoid yang biasanya dianjurkan menjelang pernikahan. Bila terlewat, bisa diberikan saat ibu hamil sebanyak dua kali dengan jarak 1 sampai 2 bulan. Menjelang waktu persalinan, imunisasi ini harus sudah lengkap. Karenanya, di masa hamil, imunisasi ini dilakukan di usia kehamilan 7 bulan, kemudian 8 bulan, dan dapat diulangi tiga tahun kemudian. Setelah diimunisasi, ibu biasanya mengalami demam ringan meski sangat jarang terjadi, agak nyeri, dan sedikit bengkak pada daerah bekas suntikan. Sesudah persalinan, ibu juga harus memastikan bahwa luka di vagina atau perutnya (akibat sesar) dalam keadaan bersih. Begitu pula tali pusat bayinya.
  • Meningococcal Vaksin pencegah meningitis atau radang selaput otak ini terbuat dari bakteri meningococcal yang sudah mati/tidak aktif sehingga aman untuk ibu hamil. Apabila ibu hamil menderita meningitis, maka kumannya pun dapat menjalar ke otak janin. Pada ibu hamil, imunisasi ini sebaiknya diberikan setelah trimester pertama untuk menghindari risiko umum yang terjadi pada kehamilan trimester pertama seperti keguguran. Sebaiknya, lakukan imunisasi ini saat tubuh benar-benar sehat meski pada beberapa orang hanya akan muncul demam ringan. Studi mengenai pemberian imunisasi ini pada ibu hamil memang belum pernah menunjukkan adanya efek merugikan bagi sang ibu maupun bayinya. Jadi, imunisasi Meningococcal bisa diberikan, terutama bagi ibu hamil yang terindikasi akan terpapar virus tersebut. Misalnya, mereka yang berencana melakukan perjalanan ke negara-negara dengan risiko terpapar virus meningococcal. Meski begitu, pemberian imunisasi ini tetap harus didasarkan pada indikasi, serta turut pula memperhitungkan faktor risiko dan keuntungannya.
  • Hepatitis B Walau imunisasi ini dikatakan aman bagi ibu hamil, sebaiknya hanya diberikan bila ia berisiko tinggi terjangkit Hepatitis B. Misalnya, ibu hamil merupakan pekerja kesehatan yang punya kemungkinan terpapar atau tertusuk jarum suntik yang bisa menularkan virus Hepatitis B, dll.
  • Hepatitis A Dalam Panduan Pemberian Imunisasi bagi Wanita Hamil dan Menyusui yang dikeluarkan CDCdisebutkan, keamanan pemberian imunisasi Hepatitis A masih belum bisa dipastikan. Namun, karena vaksin ini dibuat dari virus mati atau tidak aktif, secara teoritis risiko janin terpengaruh sangat rendah. Jadi, imunisasi ini bisa diberikan pada ibu hamil, jika ada indikasi berisiko tinggi terkena penyakit tersebut. Misalnya,memiliki kelainan hati, hidup di lingkungan yang berisiko terinfeksi Hepatitis A, sering berada di Tempat Penitipan Anak (TPA), atau akan bepergian ke negaradimana penyakit ini menjadi endemis.
  • Pneumococcal Polysaccharide Vaccine(PPV23) Pemberian imunisasi Pneumococcalpada trimester pertama kehamilan belum pernah dievaluasi keamanannya. Meski begitu, belum pernah dilaporkan adanya efek merugikan terkait pemberian imunisasi ini pada janin yang dikandung ibu. Tentu saja, jika ibu hamil tidak berisiko tinggi terkena virus tersebut, imunisasi ini tidak perlu diberikan.
  • Diphtheria, Pertussis, dan Tetanus (DPT) Yang umum diberikan adalah imunisasi DT (Diphtheria dan Tetanus Toxoid). Pemberian DPT bisa dipertimbangkan, jika ibu hamil memiliki kemungkinan untuk terpapar penyakit pertussis atau batuk rejan. Misalnya, pekerja kesehatan atau mereka yang bekerja di tempat penitipan anak (TPA) dimana terdapat banyak kasus pertussis.

Kontra Indikasi

  • Terdapat beberapa jenis imunisasi yang harus dihindari alias tidak disarankan untuk diberikan pada ibu hamil, yakni imunisasi yang mengandung virus hidup. Secara teoritis, virus hidup memang tidak boleh diberikan, karena dikhawatirkan virus tersebut akan masuk ke janin melalui plasenta.
  • Selain MMR dan Varicella,imunisasi lain yang tidak boleh diberikan pada ibu hamil adalah HPV (Human Papilloma Virus), serta BCG (Bacillus Calmette-Guérin). Meski belum ada penelitian yang menunjukkan adanya efek negatif bagi ibu ataupun janin, pemberian imunisasi HPV sangat tidak disarankan bagi ibu hamil. Imunisasi ini baru diluncurkan, serta masih dalam tahap dikaji dan diamati
Rekomendasi CDC: Vaksinasi Pada Kehamilan
Jenis Imunisasi Rekomendasi Tidak Dianjurkan
Rekomendasi Pada keadaan Khusus
Hepatitis A
Keamanan selama kehamilan belum ditentukan, tapi risiko teoritis untuk janin diharapkan akan rendah.
Hepatitis B
X
Human Papillomavirus (HPV) Quadrivalent HPV tidak direkomendasikan selama kehamilan
Influenza (Inactivated) Dianjurkan (rutin)
Influenza (Live attenuated virus)
X
Campak
X
Meningococcal (MCV4) Tiak ada data keamanan bagi ibu hamil
Mumps
X
Pneumococcal Keamanan selama trimester pertama kehamilan belum dievaluasi, meskipun tidak ada konsekuensi yang merugikan telah dilaporkan di antara bayi yang ibunya secara tidak sengaja divaksinasi selama kehamilan.
Polio (IPV) Tidak ada efek samping telah dilaporkan di antara wanita hamil atau janin mereka, tetapi vaksinasi ibu hamil harus dihindari dengan alasan teoritis. Jika seorang wanita hamil adalah pada peningkatan risiko untuk infeksi dan membutuhkan perlindungan segera terhadap polio, IPV dapat diberikan sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan untuk orang dewasa.
Rubella
X
Tetanus—Diphtheria
X
Sebelumnya divaksinasi ibu hamil yang belum menerima vaksinasi Td dalam 10 tahun harus menerima dosis penguat.

Wanita hamil yang belum menerima tiga dosis vaksin yang mengandung tetanus dan difteri toxoid harus menyelesaikan serangkaian tiga vaksinasi, dengan dua dosis diberikan selama kehamilan untuk memastikan perlindungan terhadap tetanus maternal dan neonatal.

Idealnya diberikan hingga kehamilan trimester ke dua

Tetanus— Diphtheria—Pertussis (Tdap) Kehamilan bukan merupakan kontraindikasi untuk penggunaan Tdap, tetapi sangat sedikit data tentang penggunaannya yang ada.
Varicella
X
Perjalanan

dan

lainnya

Anthrax Vaksinasi hanya jika potensi bermanfaat vaksinasi lebih besar daripada potensi risiko terhadap janin.
BCG
X
Japanese Encephalitis Tidak ada laporan spesifik yang ada pada keamanan selama kehamilan. Vaksinasi menimbulkan risiko yang diketahui, tetapi secara teoritis untuk janin, dan vaksin tidak harus secara rutin diberikan selama kehamilan.
Meningococcal (MPSV4)
X
Rabies
X
Typhoid Tidak ada data yang telah dilaporkan pada penggunaan salah satu dari tiga vaksin tipus pada wanita hamil.
Cacar Air
X
Wanita hamil yang terpapar virus cacar (yaitu, tatap muka, rumah tangga atau dekat kedekatan kontak dengan pasien cacar) dan berisiko tinggi untuk tertular penyakit harus divaksinasi.
Yellow Fever
Keamanan selama kehamilan belum ditetapkan, dan vaksin harus diberikan hanya jika melakukan perjalanan ke daerah endemik tidak dapat dihindari dan peningkatan risiko untuk pemaparan terjadi.
Zoster
X

Sumber: U.S. Centers for Disease Control and Prevention

  • Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka pasti akan membingungkan masyarakat awam. Hal ini terjadi karena yang memberikan informasi yang tidak benar tersebut adalah para ahli kedokteran tetapi yang tidak berkompeten sesuai keahliannya. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya berbagai kejadian berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu atau sebagai co-accident atau kebetulan.
  • Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan berbagai hal yang tidak benar hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi). Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.
  • Menanggapi tantangan tersebut, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Pelaksana Konferensi Vaksin Se-Asia 3 mengatakan, pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pendekatan kepada ulama dan masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar. “Kami tidak melawan pemahaman kelompok antivaksin, tetapi jangan memutarbalikkan fakta pada masyarakat,” kata Sri dalam acara jumpa pers pelaksanaan Konferensi Vaksinasi Asia Ke-3 di Jakarta, Kamis (28/7/2011).
  • Ketua Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. “Pemerintah menjamin semua vaksin yang beredar sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Pada kasus kontroversi vaksin meningitis untuk jemaah haji, kami mengikuti saran MUI,” katanya.
  • Persoalan black campaign dari vaksin ternyata juga ditemui di negara-negara lain, misalnya di Filipina. Menurut Enrique Tayag, President of Philliphine Foundation for Vaccination, kelompok antivaksin juga menjadi tantangan. “Bagaimanapun masyarakat harus diingatkan manfaat vaksin untuk kesehatan anak jauh lebih besar daripada efek samping yang ditakutkan,” katanya dalam kesempatan yang sama. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang dilakukan oleh oknum pelaku naturopathy, homeopathy, food combining, atau bisnis terapi herbal. Sebagian dari kelompok ini juga dilakukan oleh dokter bahkan beberapa profesor. Tetapi semuanya bukan berasal dari ahli medis, dokter atau profesior yang berkompeten di bidangnya seperti ahli kesehatan anak, ahli vaksin, ahli imunologi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak juga dokter atau profesor yang bergerak di bidang bisnis terapi alternatif atau non medis. Meski sebenarnya ilmu dan aliran terapi alternatif tersebut pada umumnya sangat baik, tetapi sayangnya sebagian kecil di antara mereka demi keberhasilan bisnis mereka mengorbankan kepentingan anak di dunia dengan menyebarkan informasi tidak benar dan menyesatkan

 

.

www.mediaimunisasi.com

Provided By:
MEDIAIMUNISASI.COM Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252 email : judarwanto@gmail.com
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC Online” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, MEDIA IMUNISASI Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tentang Dokter Indonesia

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN. Advancing of the future children to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult
Pos ini dipublikasikan di Dewasa, jadwal imunisasi, jenis imunisasi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s